Pujian yang sering dilontarkan padaku,
Membuatku lupa akan seberapa DANGKAL-nya aku.
Cacian yang sering dilontarkan padaku,
Membuatku lupa akan seberapa DALAM-nya aku.
Dasar aku...
Tak pernah sadar juga akan fatamorgana alam kelabu,
Termakan bujuk rayu membisu menjadi batu!
Terbakar api amarah melebur menjadi abu!
Dan aku...
Tetap saja merasa jadi yang ter-satu.
Atau aku...
Tersakiti diri merasa jadi yang ter-adu.
Friday, October 10, 2008
Apa Aku...
Thursday, October 9, 2008
Abadi Selamanya
Aku tak pernah menyangka kalau kenyataan pahit itu harus terungkap, tepat sehari sebelum hari pernikahan ku. Oh… ya Tuhan… Mengapa?
Memangnya aku pernah melakukan kesalahan apa? Apa memang ini jalan yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan pada ku. Kenapa harus aku? Kenapa Tuhan? Kenapa?
+++
Besok adalah hari pernikahanku, aku akan menikah dengan Andy, pria tampan dan mapan yang ku kenal 2 tahun yang lalu, saat liburanku ke bali.
Jam 3 tepat sore itu, ku putuskan diam-diam pergi ke luar rumah ditengah sibuknya persiapan pesta pernikahanku besok. Aku pergi lewat pintu taman belakang, dan kupastikan taxi langgananku menjemputku tepat waktu disana, dibelakang rumah.
Sejenak aku kebingungan memutuskan tujuan ku, tapi kemudian aku putuskan saja pergi ke kantor Andy. Jika dia disana berarti kami memang berjodoh bertemu hari ini -mengingat kata orang tua kita, bertemu calon mempelai sebelum hari pernikahan itu membawa sial.
Tapi semestinya dia tidak disana, dia pasti sedang sibuk menghabiskan sisa-sisa hari lajangnya bersama dengan teman-temannya.
Kulihat Ema sekretaris Andy kaget melihatku ada di kantor Andy sehari sebelum pernikahan kami, ku pasang senyum lebar ke arahnya sambil terus melenggang memasuki ruangan Andy.
Ruangan itu tetap sama, tertata sama rapinya, hanya saja kulihat di meja banyak sekali kartu ucapan selamat menempuh hidup baru yang ditujukan kepadanya. Kuamati satu persatu kartu itu, dan kutemukan selembar kertas diantara sekian banyak kartu ucapan itu, dan kubaca…
----
Andy,
Jadi benar keputusanmu menikahi Laras gak bisa diubah lagi?
Jadi masa depan kita gimana ndy?
Bukannya kamu janji mau ngebatalin pernikahan kalian, koq malah sampai sejauh ini sekarang?
Ingat ndy, hubungan kita uda terlampau jauh, aku menutupi semuanya hanya karena aku cinta kamu.
Sasha juga butuh masa depan.
Remi
----
Ya Tuhan… Jantungku langsung berdetak kencang, air mataku menetes, semakin lama semakin banyak. Apa maksud
Kucari petunjuk lain sambil menenangkan diri. Kubuka laci meja Andy, berharap menemukan sesuatu. Ya… aku menemukannya. Foto seorang lelaki, wanita dan bayinya, dengan tulisan di bawah foto itu…
“Happy Family forever”
Family apa? Kenapa foto Andy ada disana dengan Remi dan Sasha bayinya?
Bukannya Remi, sahabat karibku melahirkan anak dari pacarnya yang ada di Amerika. Pacarnya yang selalu dia ceritakan padaku, yang pasti suatu hari akan datang dan menikahinya.
+++
Aku berdiri disana, dengan gaun putih panjang lengkapku yang indah, gaun pernikahanku yang kurancang sendiri dengan penuh rasa bahagia. Ya… aku bahagia, harusnya. Oh tentu.. Aku bahagia sekarang, aku akan menikah tentu aku bahagia.
Aku berjalan menuju altar, dan kupastikan aku tak lupa menghiasi wajahku dengan senyum selebar mungkin, supaya semua orang bisa melihat ekspresi kebahagiaan di wajahku. Bagaimana hatiku? Oh tentu… hatiku pun bahagia.
Kulihat Remi di barisan paling depan, seperti biasa selalu tersenyum memberi dukungan padaku. Pasti, tentu dia harus begitu pada sahabatnya, harus mendukung selalu.
Sekarang kulihat lelaki dihadapanku ini, lelaki dalam foto itu, lelaki yang bersama Remi menggendong bayi mereka. Jadi apa? Apa aku akan menikahi orang itu? Atau aku akan menikahi orang yang mirip dengan orang di foto itu? Atau Andy? Siapa Andy?
Air mataku menetes, Andy menghapusnya dengan jemarinya yang kokoh dan membisikkan sesuatu padaku…
Aku mencintaimu, dan akan terus begitu selamanya…
+++
Gelap… Semua gelap…. yang ada hanya kedamaian dan kebahagiaan abadi yang kurasakan……………
+++
“Semoga arwah LARAS diterima disisi-Nya”
